Eddy Gombloh atau Supardi (lahir di Yogyakarta 17 Agustus 1941) adalah pemeran dan pelawak Indonesia. Dalam penampilannya di film, Ia kerap berperan sebagai orang lugu dan bloo'on, Ia sering menjadi pendukung filmnya Benyamin Sueb, S. Bagio, dan komedian lainnya. Pada tahun 1976, Eddy pernah menjadi peran utama dalam film "Tiga Janggo" bersama Benyamin S dan A.Hamid Arief dengan disutradarai oleh Nawi Ismail.
Pada akhirnya, Eddy memetik dari hasil perjuangan yang ia lakukan sedari muda itu. Pria kelahiran Yogyakarta itu kini memiliki penghasilan dari investasi properti, yakni ruko di Jakarta yang dikontrakkan, berkebun salak di Yogyakarta, dan usaha fotokopi serta alat tulis kantor.
Meski sempat menjadi artis dan berpenghasilan lumayan saat muda, dia memilih tidak menghambur-hamburkan uang untuk bersenang-senang.
"Dulu kalau habis manggung dengan teman di tempat hiburan, teman-teman terus minum di sana. Duit bayaran langsung habis malam itu juga. Kalau saya enggak mau, saya punya istri dan anak yang nunggu di rumah," kata Eddy saat ditemui di rumahnya di Tempel, Sleman, Yogyakarta.
Tak hanya itu, tatkala berpergian kemanapun, Gombloh lebih memilih naik angkot meskipun harus berdesakan dengan orang lain. Sementara beberapa rekan seprofesinya, ia menilai, ada yang malu naik angkot dan lebih memilih taksi.
"Maaf ini ya, merokok saya itu tidak, minum juga tidak, daripada untuk sesuatu yang tidak berguna, mending ditabung atau buat investasi. Saya bisa seperti itu karena saya dulu itu ikut Pramuka," cetusnya bergurau.
Saat naik daun waktu itu, Gombloh pernah mendapat upah mencapai Rp2 juta untuk satu episode film pada tahun 1980. Di masa itu, jumlah tersebut sudah sangat besar. "Itu rekor saya. Dulu itu besar sekali. Kalau sekarang nggak ada apa-apanya," pungkasnya sambil terkekeh.






0 komentar:
Post a Comment
Tinggalkan komentar Anda